Ketika Detik Menemui Detak

Kamu hadir tepat pada waktunya

Saat saya merasa sudah selesai dengan kemauan dunia saya, yang penuh dengan pikiran pekerjaan dan hal-hal yang rasanya hanya bisa saya kerjakan seorang diri

Saat saya selesai dengan “mau apa lagi setelah ini?”

Kamu datang dengan anggunnya

Saat saya mondar mandir menamatkan sekolah, kamu santai saja dengan jarak yang harus kita tempuh untuk menyelesaikan segala urusan

Kamu bertahan dengan kuatnya

Saat kepala saya penuh dengan banyak hal yang harus saya selesaikan di kantor, bolak balik sana sini agar semua tugas dan tanggung jawab saya berjalan dengan seharusnya

Terima kasih saya banyak sekali untuk kamu yang ada di pelukan. Banyak doa untuk kamu. Bukan untuk menjadikanmu penuh beban, tapi agar hidupmu dilancarkan dan dimudahkan.

Selamat datang, Kinari Yuri Priyambodo ❤️

Detakmu yang hadir kini, menjawab tiap detik saat doa kami lambungkan ke langit.

Jadilah anak yang baik, meski dunia tidak selalu asik. 😘

Ramadan Kedua

Ramadan tahun kedua kami bersama. Namun ada di dalam dua kondisi yang berbeda. Tahun lalu kami LDM atau long distance marriage (yang engga long long banget) namun sedikit banyak menguras perasaan kami.

Sebagai pekerja lapangan, mas partner tidak memungkinkan pulang pergi seperti pegawai kantoran lain. Ngekos adalah pilihan yang paling baik saat itu. Dia bekerja di site tol Tangerang, saya tetap di Jakarta. Waktunya saya bekerja, dia juga bekerja di lapangan. Saya pulang ke rumah, dia masih di lapangan. Waktunya buka puasa, dia di kosan. Saat saya pulang tarawih dia sudah ada di lapangan lagi, sampai waktu sahur. Rasanya saya akan sangat egois jika memintanya pulang pergi Jkt – Tgr – Jkt setiap hari.

Sabtu selepas sahur dia akan langsung ke Jakarta dan Senin setelah sahur juga dia kembali ke lapangan, atau malah hari Minggu sudah kembali jika ada on call. Waktu temu tidak banyak, tapi waktu diskusi tidak pernah berkurang. Terima kasih wahai teknologi!!

Jadi, ramadan taun lalu buat saya tidak banyak berbeda dibanding ketika belum menikah.

Setelah melalui banyak diskusi dan pemikiran panjang kami berdua akhirnya mas partner memilih tidak melanjutkan kontrak di site. Kami buat penjabaran positif negatifnya jika terus dalam kondisi berjauhan satu sama lain, bukan hanya terkait materi tapi juga kondisi kesehatan kami, kewarasan kami, dan banyak hal lainnya. (Nanti dibahas di postingan sendiri. Kalo inget. Wkwk)

Hingga tahun ini menjadi berbeda…

Kami bisa sahur dan buka puasa bersama 🙂 Alhamdulillah. Semoga kami bisa menjalani ibadah di bulan ramadan dengan lebih baik dari sebelumnya.

Semoga semuanya diberi kesehatan, keselamatan dan rezeki yang berkah

Aamiin..

Selamat puasaaa semuanyaaaaa ❤️❤️❤️Pakai foto ini biar inget kalau nanti mau nulis cerita tentang ‘mudik’ kami sebelum puasa 🙃 🙃

Petunjuk Penyelamat

Siapa yang pernah bete kalau mau pergi ke sebuah acara tapi petunjuk jalannya gak jelas? Saya~

Siapa yang pernah emosi kalau udah ada peta petunjuknya tapi masih gak nemu juga karena ‘tanda’ keberadaan acaranya kurang? Saya~~

Oleh karena itu lah hamba tidak ingin menyusahkan dan bikin emosi tamu undangan yang akan hadir di acara nikahan kemarin.

Area nikahan gue itu bisa dibilang adalah area yang dipakai sebagian besar calon pengantin yang berdomisili di Bekasi. Gimana engga? Aksesnya paling gampang. Deket stasiun, deket tol, deket hotel dan deket mall (eh yang ini penting gak sih? Wkwk). Posisinya di pinggir jalan pun. Mau naik angkot bisa, naik ojol juga bisa. Itulah mengapa jadwal nikahan di weekend itu padet. Apalagi kalau kalian pengen di tanggal khusus, bisa setahun sebelumnya kali yhaa..

Nah.. Dikarenakan area nikahan gue kemarin punya tiga gedung, tentunya jangan sampai pemirsa undangan salah masuk amplop ke acara kami. Gedung yang gue pakai adanya di bagian belakang, tentu posisi ini sangat tricky dong ya. Maka dari itu petunjuk arah jadi salah satu perhatian gue di antara yang lain yang harus dipikirin.

Di bagian depan area nikahan dipasang janur dan dibawahnya juga digantungin nama mempelai dan nama orang tua. Kenapa pakai nama orang tua? Karena kan kami juga ngundang temennya orang tua. Jadi, biar mereka yakin aja kalau itu area nikahan yang emang mau dia datengin.

Kayak gini nih…….

😆

*hpku rusak :)) filenya hilang :)) lagi minta ke vendornya dulu ya, siapa tau masih nyimpen :)) *

Lanjut dulu…

Begitu masuk area nikahan, selanjutnya dipasang panah kanan dan kiri, kayak di ini..

*panah yang arah sebaliknya hilang juga. Wkwk*

Lalu, untuk tambah meyakinkan kalau acara yang mereka datangi benar adanya maka dipasang pula sesuatu di dekat pintu, seperti ini….

Sebuah blackboard dengan ukuran 40 x 60cm, no frame, standing ukuran 120cm warna bali yellow. Daku nemu hasil scrolling di instagram @chalkboard.jkt. Awalnya sempet ragu kalau mau pesan online gitu, takut patah di jalan dan lain lain tapi ternyata pesen di situ rapih dan aman banget. Dikirim pakai bubble wrap entah berapa lapis. Jadi papan ini sampai dengan selamat tanpa cacat.

Blackboard ini biasanya banyak dipakai juga buat acara lamaran, tapi dulu tak ku pakai karena merasa tak ada faedahnya. Wkwk. Wong lamaran yang dateng itu keluarga sama temen deket. Loh kan bukannya biar instagramble? Ah gak gitu penting buat daku dan mas partner. Wkwk. Tapi silahkan loh yaa yang mau pake buat acara lamaran, ulang taun atau apapun.. Bebaas..

Ikan hiu ikan cucut… Lanjut…

Kenapa ukurannya segitu? Itu ukuran tengah-tengah menurut gue. Kalau lebih besar dari itu kegedean dan kalau lebih kecil malah kekecilan *yaiyalah, gimana sih mb* Jadi yang sedang-sedang saja.. ~~ Karena setelahnya gue berpikir akan pakai lagi itu blackboard, jadi kalau ukurannya gengges jadi mubazir.

Kenapa ga pakai frame? Karena buat gue kesannya kaku banget kalau pake frame, macem poto gitu jadinya kan 🤣

Kenapa ukuran kakinya segitu? Balik lagi… Gue akan pakai lagi nantinya, jadi kalau ketinggian atau kependekan akan sia-sia, kakak~~

Kenapa warna kakinya Bali Yellow? Karena itu warna yang terang tapi gak gonjreng tapi gak pucat juga. Pas lah..

Untuk tulisannya dan motifnya apa itu bebas sesuai request pemirsa. Mereka punya banyak contoh yang udah pernah mereka buat kayak gimana aja. Kalau ada yang sekiranya kalian suka ya tinggal minta ganti aja nama sama tanggal acaranya. Wkwk. Jangan dibuat stres~ Calon pengantin jangan pusing! (meskipun suka ga sadar kalau ternyata strez ugha (-, -) wah ini daku banget)

Nah buat blackboard gue ini emang request. Sesuai dengan prinsip yang simple namun tetap elehan. Tidak banyak corak hingga jelas maksud dan tujuannya. Untuk ukirannya juga minta ada ornamen bunga calla lilly di kanan kiri atas bawah. Gak perlu gede yang penting manis.

Jaadiii deeehhh….

Kenapa itu tulisannya “Where love & dream join together” itu karena…. nemu di pinterest. Hahahaha. Pas iseng skrol eh nemu tulisan itu lalu bergumam ‘wah oke juga nih..’ tapi waktu nemu belum kepikiran buat di mana. Wkwk. Simpen aja dulu ya kan. Eh ternyata kepake buat sign blackboard. Alhamdulillah yah~~ Penuh pilosopi.

Sayang banget gue ga nemu foto itu blackboard pas udah mejeng di depan pintu masuk gedung :((

Apa lagi?

Harga? Ini termurah dari beberapa yang gue cari dan tanya-tanya. Hamdalah ga murahan. ^, ^ Ditambah lagi penjualnya ini responsif dan ngebantu banget ngasih saran gimana-gimananya supaya kece.

Jadi, buat yang mau ada acara lamaran atau nikahan siapa tau tulisan ini bisa bermanfaat dan bisa jadi salah satu referensi yaa.

Perlu di ingat juga, dipikirin manfaat atau engganya setelah acara itu. Tiap orang beda-beda pemikirannya. Didiskusikan sama pasangannya yaa. Rejeki pasti ada, jangan diada-adain tapi juga jangan sampai malah jadi buang-buang uang.

Oke ya?

Udah kayak orang bijak ya? :p

Lurusin niatnya mau pake blackboard buat apa. Okaaaiiiii?

Ohiya, hari ini tanggal 22 loh.. Doakan gue dan mas partner sehat selalu, makin kompak dan seru yaa~~ :D. Aamiin.

Tiga Bulan Penuh Penyesuaian

Kemarin, 22 Juli 2018

Tepat tiga bulan setelah ijab kabul. Bahagianya masih sama (bahkan lebih) dan semoga seterusnya, aamiin 🙂

Dari terbiasa sendiri lalu ada kamu yang harus dipikirkan dari bangun hingga kembali terlelap.

Terima kasih segala pengertiannya, segala kesabarannya, apalagi keseruannya. Semoga selamanya. Aamiin 🙂

Banyak penyesuaian, tepatnya baaanyaaaaaaakkkk sekali. Tidak apa, saya bahagia. Kamu juga? Kita mendewasa bersama.

Kita sama-sama belajar, bertukar pikiran lebih dalam, menertawakan hal sepele, hingga berbicara serius untuk langkah yang selalu dan akan kita ambil.

Mengumpulkan pernak-pernik untuk tempat tinggal kita adalah salah satu hal baru yang menyenangkan. Pun dengan kamu yang mau utak-utik pasang ini itu demi kenyamanan tempat kita pulang dari penatnya pekerjaan.

Tambahan tugas baru yaitu bagaimana mengatur keuangan keluarga agar mimpi-mimpi saya, kamu dan kita tetap bisa dicapai. Pelan-pelan kita mewujudkan impian. Terima kasih sudah membantu untuk memberi banyak pertimbangan, sayang 🙂

Perjalanan kita masih amat panjang. Terima kasih kerjasamanya yang menyenangkan. Seterusnya seperti ini yaaa…

Terima kasih obrolan dan pelukannya yang amat sangat menenangkan.

Terima kasih dukungan dan pengingatnya untuk hal-hal yang sudah saya mulai, untuk apapun yang saya sukai, dan untuk ‘keribetan’ yang saya buat sendiri, HAHAHAHA.

Terima kasih untuk membiarkan saya tetap menjadi diri sendiri dengan versi yang lebih baik.

Kamu, selamanya menjadi partner saya. Untuk segala hal. Untuk perihal dunia dan setelahnya.

😘

Kondangan pertama setelah menikah 😀

Lebaran Pertama

….sebagai seorang istri, maksudnya~~

Tahun ini puasa pertama dengan status yang berbeda. Bedanya apa? Ya biasanya gue kalo bangun sahur ya selow aja, lalu ketika sekarang ada mas partner pastinya agak berbeza dong yaa, masa gitu-gitu aja. Hihi

Mas partner tipe yang misalnya imsak jam 4.30 nih, dia bisa makan sahur dari jam 3. Sementara gue tipe yang baru makan jam 4, meskipun siap-siapnya dari sebelum itu. Karena kalo sahur lebih cepet, lapernya juga lebih cepet. Wkwkwk. 😂 Ada yang gini juga gak sih? *Nyari temen*

Buka puasa juga agak beda. Doi bisa yang cuma makan cemilan dikit lalu ngopi, udah. Sementara gue lebih gragas kayaknya, nyomotnya sih dikit-dikit tapi banyak. Gimana deh tuh. Hahahaha. Doi bisa langsung minuman dingin sementara gue kudu yang anget dulu, kalo engga ntar kembung. *Pukpuk perut*

Alhamdulillah nya mas partner bukan orang yang macem-macem. Ada makanan buka apa ya pasti dimakan sama doi :’D

Sebelumnya, gue pikir akan melalui Ramadhan nan syahdu namun riang gembira dan ga bakal drama lah pokoknya ya selama Ramadhan. Eh kok ya ada aja. Jadi gini…

Gue kan tinggal di Cipinang deket rumah ibu (ibu mas partner) suatu hari gue ikut solat tarawih di lingkungan situ, lalu pas solat rasanya ingin menangis (T____T) udah sampe yang nyesek di dada gitu. Kangen suasana tarawih yang gue rasain selama bertahun-tahun di Bekasi. Kangen berangkat bareng ke mesjid sama mama, kangen ngerumpi sama ibu-ibu waktu ceramah (eh), kangen kang mie sakura, kang makaroni, ataupun popice yang tetiba aja mangkal depan mesjid selama tarawih. Wkwk.

Lalu curhat sama mas partner yang dijawab “yaa.. semua ada masanya.” YHAA JUGA.. hikz.. Sempet pulang ke Bekasi dan tarawih di mesjid deket rumah ternyata udah banyak berubah. Taun lalu masih renov yang sekarang udah ada AC nya dong, full karpet empuk pulak. Haha. Tambah betah ini mah kalo di mesjid 😀

Lalu tibalah Hari Raya Idul Fitri.. Horeee~~ *tau-tau lebaran

Mas partner dan keluarganya udah jarang mudik di hari lebaran. Biasanya mereka pilih akhir atau awal tahun kayak 2017 kemarin yang mudik di bulan Desember yang diriku diajak juga :’)) Ehehehe. Ntar diceritain di postingan sendiri.

Lebaran 2018 ini kami sholat ied di Cipinang. Lalu kumpul di rumah ibu yang mana kakak-kakaknya doi juga pada dateng. Naah… Ada satu tradisi keluarga mas partner yang berbeda dengan keluarga gue, yaitu sungkeman karena keluarga doi masih jawa tulen. Sedangkan gue dari keluarga yang berdarah campuran *halah* Caynis Semarang, Tegal dan Betawi. Jadi engga ngelakuin hal (yang menurut gue) formal kayak di rumah mas partner.

Gue biasanya liat (cara) orang sungkeman itu di tipi-tipi :)). Hingga akhirnya gue mengalaminya di keluarga mas partner.

Awalnya agak kikuk gitu meskipun sebelumnya udah di-briefing sama doi. Kalau nanti tuh gini gini gini. Intinya mah urutan gue adalah setelah mas partner, karena doi anak bungsu dan gue “anak baru” di keluarga ini. Wes pokok’e manut mas partner sahaja~

Sungkeman ternyata sesuai urutan kelahiran anak dari 1+istri, 2 dst. Nah, karena mas partner bontot jadi gilirannya belakangan. Pas giliran gue ya daku ikutan aja yha salim sungkem gitu :’D lalu ternyata sambil dapet wejangan gitu dari yang tua. Dikasih nasihat nanti berumah tangga harus gini gitu sampe “welcome to the family” duuhh.. aku merasa terharu.

Setelah itu lanjut makan deh…

Baru sorenya gue dan mas partner mudik ke…….Bekasi 🙂 alias rumah mama ayah (ortu gue)

Di rumah Bekasi juga udah pada ngumpul saudara-saudara dari mama sama ayah. Seperti yang gue bilang sebelumnya, di keluarga gue gak ada sungkeman. Cuma ya esensinya tetep sama. Bikin terharu.. huhu~~ Karena mama anak pertama jadi adek-adeknya pada ke rumah Bekasi juga deh tuh. Umplek-umplekan dah semua. Wkwk. Jangan tanya ramenya kayak apa. Keluarga Betawi kan yha coy.. bacotnya pada kayak apa tuh. Wkwk.

Lebaran taun ini udah ga ditanya “kapan nikah?” Yaiyalaaah.. Tapi jenjang pertanyaan berlanjut ke “udah isi?” Isi ketupat yhaa~~~

Minta didoain aja kita mah.. 😇😇

Mohon maaf lahir dan batin. Semoga ibadah puasa kita diterima Allah SWT. Aamiin….

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439H~