Commuter Line Pagi ini

Saya memilih naik kereta Manggarai yang sudah tersedia di jalur 3 Stasiun Bekasi. Biasanya lebih memilih naik kereta yang langsung ke Jakarta Kota lalu turun di Stasiun Cikini. Semua bangku sudah diduduki. Semua, dalam artian satu bangku panjang yang biasa diisi 7 sampai 8 orang kini hanya diisi 4 orang.

Semua senderan terisi. Yang duduk rata-rata tertidur, dan yang berdiri hampir semua memegang ponsel, termasuk saya. Cuaca agak mendung pagi ini. Bisa dibilang sejuk.

Saya tidak mengantuk dan bosan membuka media sosial. Hingga memilih untuk ketak ketik di platform ini. Untuk apa? Ya tidak tau. Biar saja mengalir seperti sebelumnya.

Tadi di jalur 2 Stasiun Bekasi sudah masuk kereta tujuan Jakarta Kota dengan pemberangkatan 20 menit setelah kereta yang sedang saya naikin ini. Padahal kalau saya mau naik itu, sudah dipastikan saya duduk. Tapi saya malah memilih kereta Manggarai ini, berdiri pula. Nanti pun harus transit untuk lanjut ke Cikini. Tak apa.

Mungkin ini yang namanya suasana baru. Saya yang memilih. Yaa gitulah hidup. Wkwk. Kadang dipaksa dengan perubahan, kadang ya kita aja pengen ada perubahan. Enak mana? Dipaksa atau secara sadar memilih?

Petugas keamanan di dalam kereta lebih banyak. Bagus sih, demi keberhasilan PSBB katanya. Ndak apa, semua berusaha. Yang ga mau usaha ya tinggalin aja. :))

Beberapa manusia bebal. Mau menang sendiri (?) Padahal akhirnya untuk kebaikan sama-sama kan ya? Itu lah, ga semua orang pemikirannya sama. Pun kita ga bisa maksa semua orang setuju dengan pemikiran kita.

Saya pernah ditegur oleh petugas karena masker saya waktu itu melorot. Hehe. Hidung saya gatal, lalu habis bersin. Masker hanya menutup sampai mulut. Kalau dipikir-pikir, untuk apa guna masker kalau begitu ya? Hehe. Bapak petugasnya baik, mengingatkan saya dengan bahasa yang baik. “mba tolong maskernya” sambil kasih isyarat tangan. Saya kaget “eh, iya” langsung buru-buru benerin masker.

Memang kita harus saling mengingatkan. Cuma kadang capek ya kalau yang diingatkan eh malah bantah dengan alasan ini itu. Hehe. Manusiawi ya? Eh ngeles aja.

Ohiya, kalau kamu naik commuter line dan posisinya senderan berdiri dekat pintu, pastikan kamu berdiri di pintu yang tidak terbuka di tiap stasiun ya. Kaget nanti kamu, lagi senderan eehh tau-tau kebuka. Kayak saya tadi. Kalau ke arah Jakarta Kota itu pintu yang terbuka tiap stasiun pasti sebelah kiri arah jalannya kereta, tapi kalau Cakung seringnya kanan. Hehe. Saya lupa. Udah lama ga berdiri.

Tuh, manusia suka lupaan. Eh saya deng yang pelupa. Hehe. Jangan tanya berapa harga barang yang saya beli kemarin, sudah dipastikan saya ga ingat. Tapi ada juga loh yang masih ingat barang apa uang dibeli bahkan bulan lalu. Hebat ya ingatannya? Saya mah engga. Wkwk

Eh sudah Jatinegara. Dah ah. Mau transit Manggarai. Selamat hari Senin. Sebentar lagi lebaran. Sehat-sehat yaa semuanya. 🙂

Aku dan Kekhawatiran

Sekian lama tidak menulis di sini, ketika muncul malah dengan judul yang seperti di atas. Ternyata aku manusia. Hehe

Mengetik ini saat menunggu kereta di Cikini untuk pulang ke rumah. Berjanji tidak ketik-edit-ketik-edit seperti biasa. Membiarkan jari terus menari mengikuti arahan hati. Yang di dalam kepala ini rasanya bertumpuk dan hari-hari di beberapa hari terakhir ini rasanya rumit.

Penyebaran virus ini membuat daku ketakutan, meski tidak terlihat. Bekerja di rumah sakit membuatku lebih berhati-hati. Ah, sudah tau bekerja di rumah sakit kenapa kali ini harus ketakutan yang berlebihan? Dasar aku.

Aku takut sebagai pembawa virus untuk keluarga. Takut? Sangat. Meski tidak berhubungan langsung dengan pasien tapi aku berada di lingkungan penuh virus dan bakteri. Harusnya aku takut dari dulu kan ya? Tapi kenapa kali ini berlebihan? Aku juga ga tau kenapa.

Di rumah ada yang rentan dengan virus ini. Anakku dan orang tuaku. Meski sudah sejak sebelum virus ini ada aku selalu bebersih diri setelah pulang kerja tapi kali ini rasanya kurang. Ingin berendam antiseptik rasanya.

Yaa aku ga bisa apa-apa selain menjaga mereka dengan menjaga diriku. Yang tidak terlihat memang membuat pikiran ke sana ke mari.

Lebih banyak berdoa untuk keselamatan mereka yang aku sayangi. Padahal ya memang seharusnya seperti itu kan? Kenapa harus ada virus ini dulu? Ah, dasar aku.

Teguran buatku. Meski sudah diingatkan Mas Partner, “semua yang ada sekarang ini bukan punya kita loh. Semua titipan” Tapi tetap saja pikiranku ke sana ke sini. Lagi-lagi… Dasar aku.

Setiap pagi selalu mengafirmasi diri “semua baik-baik saja.” insyaAllah ya akan terus baik-baik saja. Setiap malam selalu meyakinkan diri, “besok juga akan seperti hari ini, semua sehat, semua bahagia, aamiin”

Sudah. Kereta Bekasi datang. Semua akan baik-baik saja kan ya? Kita akan menghadapi hari yang lebih baik kan ya? Aamiin.

Tiga Puluh, Bertiga

Ga ada kata lain yang pantas diucapkan selain “Alhamdulillah..”

Semuanya terasa tepat waktu. Meski saya manusia biasa yang kerap meragu. Isi kepala selalu berputar ini itu. Padahal dunia juga bukan tempat untuk terpaku.

Dua puluhan terlewati dengan lulus sekolah, menyempurnakan separuh ibadah dan mendapatkan anugerah berupa amanah.

Waktunya untuk lebih bijaksana, lebih peka, lebih merasa dan lebih ada.

Yang kini di dekat, semakin didekap. Dengan pelukan yang lebih hangat dan dengan telinga yang lebih mendengar lekat.

Untuk dua yang kini berada di jantungku, terima kasih sudah ada. Bagian yang akan selalu memberi makna dan bahagia tanpa jeda.

Bertiga ❤️

Ketika Detik Menemui Detak

Kamu hadir tepat pada waktunya

Saat saya merasa sudah selesai dengan kemauan dunia saya, yang penuh dengan pikiran pekerjaan dan hal-hal yang rasanya hanya bisa saya kerjakan seorang diri

Saat saya selesai dengan “mau apa lagi setelah ini?”

Kamu datang dengan anggunnya

Saat saya mondar mandir menamatkan sekolah, kamu santai saja dengan jarak yang harus kita tempuh untuk menyelesaikan segala urusan

Kamu bertahan dengan kuatnya

Saat kepala saya penuh dengan banyak hal yang harus saya selesaikan di kantor, bolak balik sana sini agar semua tugas dan tanggung jawab saya berjalan dengan seharusnya

Terima kasih saya banyak sekali untuk kamu yang ada di pelukan. Banyak doa untuk kamu. Bukan untuk menjadikanmu penuh beban, tapi agar hidupmu dilancarkan dan dimudahkan.

Selamat datang, Kinari Yuri Priyambodo ❤️

Detakmu yang hadir kini, menjawab tiap detik saat doa kami lambungkan ke langit.

Jadilah anak yang baik, meski dunia tidak selalu asik. 😘

Ramadan Kedua

Ramadan tahun kedua kami bersama. Namun ada di dalam dua kondisi yang berbeda. Tahun lalu kami LDM atau long distance marriage (yang engga long long banget) namun sedikit banyak menguras perasaan kami.

Sebagai pekerja lapangan, mas partner tidak memungkinkan pulang pergi seperti pegawai kantoran lain. Ngekos adalah pilihan yang paling baik saat itu. Dia bekerja di site tol Tangerang, saya tetap di Jakarta. Waktunya saya bekerja, dia juga bekerja di lapangan. Saya pulang ke rumah, dia masih di lapangan. Waktunya buka puasa, dia di kosan. Saat saya pulang tarawih dia sudah ada di lapangan lagi, sampai waktu sahur. Rasanya saya akan sangat egois jika memintanya pulang pergi Jkt – Tgr – Jkt setiap hari.

Sabtu selepas sahur dia akan langsung ke Jakarta dan Senin setelah sahur juga dia kembali ke lapangan, atau malah hari Minggu sudah kembali jika ada on call. Waktu temu tidak banyak, tapi waktu diskusi tidak pernah berkurang. Terima kasih wahai teknologi!!

Jadi, ramadan taun lalu buat saya tidak banyak berbeda dibanding ketika belum menikah.

Setelah melalui banyak diskusi dan pemikiran panjang kami berdua akhirnya mas partner memilih tidak melanjutkan kontrak di site. Kami buat penjabaran positif negatifnya jika terus dalam kondisi berjauhan satu sama lain, bukan hanya terkait materi tapi juga kondisi kesehatan kami, kewarasan kami, dan banyak hal lainnya. (Nanti dibahas di postingan sendiri. Kalo inget. Wkwk)

Hingga tahun ini menjadi berbeda…

Kami bisa sahur dan buka puasa bersama 🙂 Alhamdulillah. Semoga kami bisa menjalani ibadah di bulan ramadan dengan lebih baik dari sebelumnya.

Semoga semuanya diberi kesehatan, keselamatan dan rezeki yang berkah

Aamiin..

Selamat puasaaa semuanyaaaaa ❤️❤️❤️Pakai foto ini biar inget kalau nanti mau nulis cerita tentang ‘mudik’ kami sebelum puasa 🙃 🙃