Pasangan di Stasiun Cikini

“Akan segera masuk di jalur dua, commuter line jurusan Manggarai, Jatinegara, Bekasi” itu suara dari pengeras suara (*tetot* mengulang kata suara) ketika gue baru aja nempelin kartu commet ke mesin.

*deg-degan* Duuh.. Keburu gak yaa..

Lima tangga sebelum gue nyampe, pintu kereta ketutup dan byeeee… kereta berjalan dengan angkuhnya meninggalkan gue. OKE FINE..! MASIH ADA YANG LAIN.

Sampai di tangga teratas……….

Image

Gue berjalan kurang lebih satu setengah meter di belakang mereka setelah gue ngos-ngosan menaiki tangga stasiun *lap keringet* Gue beberapa kali melihat mereka berjalan beriringan di stasiun ini. Tertawa bersama. Melempar senyum satu sama lain. Biasanya gue cuek aja. Tapi kali ini gue lebih memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Kepo ya? Iya.

Gue menduga kalau mereka ini berteman atau mungkin lebih. Bisa sahabatan, abang-adik zone, atau teman kereta zone. Ya cuma Tuhan dan mereka yang tau. Eh tapi pasti mereka ada apa-apanya deh *mulai nuduh*. Mereka selalu asik kalo lagi ngobrol. Tapi gue gak pernah ngeliat mereka kontak fisik. Entah cuma nyolek, pegangan tangan, pelukan apalagi ciuman (yakali di stasiun mau ciuman -,,-) atau tampol-tampolan pun engga pernah mereka lakukan. Mungkin mereka tidak kontak fisik karena belum muhrim. *kibas hijab*

Kalo diliat dari tatapan mata mereka sih, iya gue pernah berdiri tepat disamping mereka tatapannya itu bukan kayak temen biasa. Kalo ilustrasi di komik-komik, muncul bintang-bintang dari mata mereka. *tsaahh*. Cara mereka bercerita juga keliatan excited banget, keliatan dari gerak tubuh mereka.

Hari ini gue bertemu mereka lagi, tapi gue duduk agak jauh dari mereka. Meskipun begitu, gue masih bisa ngeliat gerak-gerik mereka bercerita sambil menunggu kereta datang. Ah, romantis.. :3 Dan sama seperti yang gue liat sebelum-sebelumnya.. Mereka selalu asik bercerita. Yaa.. berasa itu stasiun cuma ada mereka lah. Yang laen cuma tukang sapu rel kereta -__-

Dari mereka, gue (dengan sotoy) belajar. Mungkin, mencintai seseorang itu tidak harus ditunjukkan dengan kontak fisik. Mencintai bisa dengan cara menjadi pendengar dan pencerita yang baik. Ketika yang satu bersemangat untuk menceritakan suatu kejadian, yang satu juga menyiapkan telinga lebar-lebar untuk mendengarkan.

Berbagi cerita, berbagi canda, atau mungkin mereka pernah berbagi tangis, tidak melulu dilakukan dengan kontak fisik. Hati yang bisa menerima segala bentuk emosi, gue rasa lebih berharga dari sebuah pelukan tanpa perasaan.

🙂

Advertisements

One thought on “Pasangan di Stasiun Cikini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s