Lelaki Kemeja Biru

Seperti biasa, pukul 06.00 aku sudah berada di sini. Di stasiun, tempat aku biasa menunggu jemputanku datang.
“Pacarmu mana?” Begitu kata ibu di sebelahku sambil melirik dan tersenyum mengejek ke arahku.
“Tau ah bu.” Jawabku sambil memajukan bibir.
Ibu itu tertawa. ”Tenang aja, kamu masih muda.” Aku merangkul lengan ibu tadi. Ibu Nina namanya. Teman keretaku. Kami belum lama dekat. Hanya saja dia pandai mengorek cerita tentangku. ”Kamu kayak anak ibu, senggol curhat.” Begitu katanya. Dan aku langsung terbahak begitu mendengarnya.

”Ibu bawa risol, mau?” katanya sambil menyodorkan kantong plastik. Aku hanya menggeleng sambil menengok ke arah Dipo.
”Tuh udah mau masuk bu.”
Tak lama aku dan Bu Nina harus berjuang supaya mendapatkan tempat duduk di kereta. Untuk ukuran badan ibu Nina yang lebih kecil dariku dia lebih mudah ‘nyelip’ saat pintu kereta dibuka dan orang-orang berebutan masuk kedalamnya. Benar saja, saat aku sedang celingak celinguk mencari Bu Nina tiba-tiba ada yang teriak memanggil namaku. Refleks aku menengok ke arah kanan lalu mengacungkan ibu jari sebelah kiri begitu tau panggilan itu berasal dari suara bu Nina yang sudah duduk dengan manis di bangku kedua sebelah kanan gerbong 4 dari depan.

Kali ini aku berdiri di dekat pintu karena memudahkanku untuk turun begitu sampai di stasiun tujuan. Dengan tas ransel yang kutaruh di depan dada kurasa sudah cukup sebagai penahan supaya tidak terlalu sesak ketika nantinya banyak orang yang masuk. Tak lama pintu kereta sudah tertutup.
Ku lihat gadgetku. Tidak ada pesan ”Have a nice day. Anak kereta hati-hati ya. Kalo ada yang nyenggol kamu, senggol balik. Kan kamu jagoan. 🙂 ” yang masuk ke hpku. Nampaknya dia benar-benar marah. Ya sudahlah, pikirku. Nanti juga baik sendiri.

Saat sedang asik bermain game. Tiba-tiba ada yang menyenggol pundakku. ”Aduh” Langsung aku mengangkat kepala ingin melihat siapa pelakunya. Seorang lelaki dengan ransel besar berwarna hitam ”Maaf mbak tasnya kegedean, saya mau turun di depan.” katanya sambil sedikit menundukan kepala dan mengambil kantong plastik besar berwarna putih dari tangan lelaki disebelahnya.

Aku yang awalnya ingin marah, langsung luluh.
Nampaknya di kereta ini sudah jarang ada orang yang punya sopan santun untuk sekedar meminta maaf karena sudah menyenggol orang lain. Mungkin mereka berpikiran kalau namanya kereta, pasti penuh dan bakal senggol-senggolan, jadi wajar lah kalau kesenggol. Tapi kurasa tidak seharusnya seperti itu. Menyenggol meskipun pelan, itu sudah mengganggu kenyamanan seseorang. Apalagi kalau entah sengaja atau tidak, menabrak dengan keras. Aku tak segan untuk menegur orang yang seperti itu. Iya, aku jagoan. Seperti katanya – orang yang hari ini sedang ngambek kepadaku.

”Eh, iya gak apa-apa.” kataku sambil memasukan gadget kekantong depan ranselku.
”Bawaannya banyak banget.”
”Hehe..iya mau pergi.”
”Ow..”
Tak berapa lama, kereta berhenti. Bukan karena sudah sampai distasiun tapi ditahan untuk masuk ke stasiun besar itu, seperti biasa. Aku maklum.
Tapi melihat lelaki di depanku tampak kelelahan membawa barang-barangnya, aku dengan segera menawarkan bantuan.
”Gak apa-apa, sebentar lagi palingan.” Dia menolak dengan halus sambil tersenyum. Aku hanya membalas dengan senyuman.

Benar saja. Tak lama kereta kembali melaju. Begitu pintu terbuka, dia tersenyum kembali sambil mengucap terima kasih dan turun dari kereta. Lagi-lagi aku membalas dengan senyuman. Pintu kereta kembali tertutup.
Dua stasiun lagi aku turun. Aku kembali mengambil hp berharap ada pesan masuk darinya. Tapi ternyata tidak ada.

”Hati-hati nanti hpnya jatuh.”
Aku langsung mendongakkan kepala. Melihat siapa yang berbicara. Aku terpana lima detik. Pintu kereta terbuka.
”Duluan ya.” katanya sambil tersenyum dan keluar dari kereta.
”Eh..”

Dia lelaki yang tadi membantu orang yang membawa ransel besar. Senyumnya manis. ku perhatikan dia sampai tempat tap out tiket. Kemeja biru, berkacamata, dengan tas ransel tipis berwarna biru tua.

”Dia siapa?”
Lalu pintu kereta kembali tertutup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s