Jangan Jatuh Cinta

“Kan aku udah pernah bilang, jangan jatuh cinta sama aku. Kamu pasti tau jawabannya kan?” Wanita didepanku berbicara seperti itu sambil mengaduk teh dengan santainya.

Dia wanita pekerja keras, dia selalu haus akan ilmu, dia suka pergi ke tempat baru, dan dia senang mengenal orang baru. Bagaimana mungkin aku bisa tidak jatuh cinta dengannya. Keramahannya, kepintarannya, ku rasa dia sempurna. Dia memang sempurna. Meskipun pepatah bilang tidak ada yang sempurna, ku rasa dia berhak dapat pengecualian.

Tiga tahun lalu aku mengenalnya, disebuah stasiun. Obrolan kami mengalir deras pada saat itu ketika kami ternyata menunggu kereta yang sama, namun dengan tujuan yang berbeda. Dia mau pergi, sedangkan aku mau pulang. Justru dengan perbedaan itu yang membuat kami semakin dekat hingga akhirnya bertukar nomor kontak.

Wanita ini masih membuatku terpesona, persis seperti saat pertemuan pertama. Jangan minta aku untuk mendeskripsikan dia lebih detail, karena nanti kamu bisa jatuh cinta. Seperti aku.

“Kalau begitu, aku harus apa?” Aku seolah menantangnya.
“Kamu ganteng, Yo. Ganteng banget malah, baik, pengertian, pokoknya kamu perfect deh. Kamu pasti gampang dapet wanita manapun yang kamu mau.”
“Aku mau kamu.” Tanpa basa basi aku katakan itu. Terserah apa pendapatnya nanti. Apa yang terjadi nanti, ya kita lihat nanti.
“Heh, jangan rese ya.” Jawabnya sambil memutar-mutar sedotan didepan wajahku, lalu tertawa.

Ini ketiga kalinya aku ‘menembak’ wanita istimewa ini. Dan belum ada tanda-tanda bahwa dia akan menerimaku. Tak apa. Setidaknya aku sudah jujur. Aku tidak yakin mampu melihat wanita ini berdampingan bersama pria lain. Bagaimana bisa kamu melihat orang yang begitu kamu sayangi berada ditangan yang belum tentu tepat untuknya. Dan aku, aku yakin, akulah yang tepat untuknya.

“Ini udah malem, kamu masih mau disini?” Aku memecah keheningan diantara kami.
“Bentar lagi deh, tanggung nih.” Kiara masih asik menggoreskan pensil diatas kertas gambarnya.
Tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya. Aku sudah tau jawaban Kiara. Dan ya.. Mungkin aku harus melakukannya lagi yang keempat kalinya. Semoga saat itu, dia sudah berubah pikiran.

“Yuk..” Kata Kiara sambil merapihkan syal ungu yang melingkar manis di lehernya.
Aku berjalan ke arah pintu keluar.
“Satryo.. Jadi kamu mau ninggalin aku nih?” Kiara berteriak.
Aku menengok, lalu kulihat dia bersusah payah untuk bangkit dari kursi. Aku tertawa.
“Tuh, kamu butuh aku kan?” Kataku sambil mendekati Kiara.
“Engga juga sih. Aku kasian aja ngeliat kamu jalan sendirian, keliatan banget jomblonya.”

Lalu kami tertawa bersama.

Advertisements

2 thoughts on “Jangan Jatuh Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s