Kembali

“Kamu gila apa gimana sih? Ini kurang dari sebulan loh. Sebulan!” Kio berbicara pelan namun penuh penekanan. Aku tidak berani menatapnya. Sungguh. Andai semua tau, aku tidak pernah benar-benar berani menatap matanya. Sejak dulu, Tapi kali ini aku harus berani. Tidak ada waktu lagi. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Liat aku Reina.” Suara Kio semakin meninggi dan terasa sekali sekeliling kami langsung memperhatikan kami berdua. Tempat ini hanya terisi lima meja dari lima belas meja. Aku hafal sekali tempat ini. Padahal kami sudah duduk di sudut ruangan. Namun tetap saja suara Kio mampu mengalahkan alunan instrument musik di ruangan ini.

Aku mengangkat kepala dan tersenyum sambil mengatupkan kedua telapak tangan ke beberapa pengunjung yang memperhatikan kami sebagai permohonan maaf atas suara Kio. Ku lihat Kio mengaduk cangkir kopinya tanpa lepas memandang kearahku.

“Boleh nada suaranya diturunkan sedikit?” aku memulai pembicaraan sambil melonggarkan syal di leherku.

“Kamu tau cerita aku sebelum ini seperti apa kan, Kio?”

“Sangat amat tau. Lalu apa hubungannya dengan keputusanmu tadi, Nona Reina?”

Kio menatapku sinis. Aku kembali menunduk. Dadaku sesak. Kio mulai memanggilku “Nona” yang artinya dia amat serius berbicara. Sementara aku mulai kebingungan bagaimana menjelaskan semuanya. Mungkin lebih tepatnya bingung memulai darimana.

“Ardan.” Akhirnya nama itu meluncur dari mulutku meski dengan nada gemetar.

“Tepat seperti dugaanku, Nona.” Jawab Kio sambil mengangkat daguku. Lalu dia bersandar di sofa sambil menyilangkan tangan di depan dada. Aku merasa seperti anak kecil yang akan dimarahi oleh ayahnya. Aku rasa dia sudah siap mendengar ceritaku.

“Mungkin aku memang lebih lama mengenal kamu daripada Ardan. Tapi bukan berarti aku engga tau banyak tentang Ardan. Kamu sangat amat tau gimana cerita aku sama Ardan.”

“Lalu sekarang maksud kamu apa?” Suara Kio terdengar cukup lembut. Dia mengejekku? Entahlah.

“Kamu yang sering bilang kalau aku harus selalu jujur sama perasaan aku. Ingat?”

Kio hanya mengangguk.

“Aku bahagia sama Ardan. Sangat bahagia. Gimana mungkin engga bahagia saat aku lagi sepi engga ada orang buat berbagi cerita lalu dia datang. Aku gak mikir kalo bisa jatuh cinta sama Ardan. Tapi lama-lama rasa ini berbeda dengan sebelumnya. Semakin kesini aku semakin mengerti sifat Ardan.”

Aku menghela nafas panjang “Suatu hari aku berdebat sama dia dan dia melakukan apa yang kamu takutkan kalau aku masih terus sama dia. Aku inget semua yang kamu bilang tentang dia.” Aku menunjukkan bekas luka dilengan kiriku.

“Ya Tuhan.. Reina.”

“Pasti saat itu aku jatuh cinta banget sama dia ya? Sampe aku engga ngedengerin kamu sama sekali.” Aku tertawa kecil. Menertawakan diriku sendiri.

“Rei.. Rei.. Mana ada sih sahabat yang mau nyelakain sahabatnya sendiri?”

Aku berusaha tersenyum. Sebenarnya aku sangat malu berhadapan dengannya.

“Ibu tau tentang ini?” Suara Kio terdengar khawatir

“Aku udah cerita sama ibu. Ibu tau semuanya. Aku disini juga karena ibu. Ibu yang mau aku bicara langsung sama kamu. Aku sebenernya gak mau karena yaa aku semacam udah gak punya muka di depan kamu. Maafin aku ya?” Suaraku semakin lirih. Kio pindah duduk disampingku. Dan dia memegang pundakku.

Tiba-tiba semua kembali berputar saat aku memilih meninggalkan Kio persis ditempat ini juga. Begitu habis kesabaranku saat itu sampai tak mendengarkan kata-katanya sama sekali. Bagaimana mungkin kamu bisa mendengar sahabatmu sendiri menjelek-jelekan calon tunanganmu. Tapi ternyata Kio benar.

“Kamu tau aku kayak gimana. Kamu tau….” Belum selesai aku menyelesaikan kalimatku Kio sudah memelukku. Tangisku pecah didadanya.

“Reina itu gengsinya tinggi banget. Dia sok kuat padahal rapuhnya melebihi apapun.” Kio semakin erat memelukku.

“Udah ah. Kamu aneh kalau nangis. Besok aku pulang ke Jogja. Sebenernya aku engga bakal mau balik lagi kesini. Untuk apa aku kesini lagi untuk ngeliat orang yang aku sayang tunangan sama orang lain.”

“Kamu tetep pulang besok?” aku khawatir Kio benar-benar engga balik kesini.

“Sayangnya iya.” Kio tersenyum. Aku menutup muka, nampaknya aku akan mulai kembali menangis.

Sambil melepaskan tanganku yang menutup wajah, Kio berkata “Lalu besoknya aku kesini lagi sama Romo dan Unda buat kerumah kamu nemuin ibu.” Suara Kio terdengar mantap.

“Kamu… Kamu sayang sama aku?”

“Cuma si Ardan bodoh yang engga sayang samu kamu, Nona Reina.”

Lalu Kio kembali memelukku.

“Aku seneng kamu akhirnya kembali Rei”
Sayup-sayup aku mendengar suara Kio.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s