Selesai

Menggoreskan pensil diatas kertas bukan lagi menjadi hobi tapi kehidupan. Dengan menggambar apa yang tertangkap mata saat itu membuatku merasa hidup. Banyak yang bilang gambarku bagus, tapi herannya gambarku tidak pernah dimuat disetiap majalah yang aku kirim.

Hingga kemarin, Tania, sahabatku tiba-tiba mengajak bertemu.

“Keyra.. Gambar elo masuk nih.” Teriaknya dari pintu masuk sambil mengacungkan sebuah majalah. Sontak aku terkaget, untung saja minuman yang aku pegang tidak jatuh.Ternyata dia mengirimkan salah satu gambar hasil coretanku waktu di alun-alun kota ke sebuah majalah dan langsung dimuat di edisi berikutnya. Secepat itu.
Aku heran kenapa begitu Tania yang mengirim, langsung dimuat?

“Rasa yang tersimpan dari gambar lo, Ra.”

Aku memicingkan mata.

“Gue gak pake rasa apa-apa waktu ngegambar itu. Camkan itu saudari Tania.”

“Hahahaha.. Jangan galak gitu ah, Keyra Ardindra. Waktu nggambar, elo engga niat mau ngirim gambar itu kan?”

“Emang engga. Gue ya cuma ngegambar biasa. Lagian sambil nemenin Fah…..”

“Fahri.. Ra. Namanya Fahri. Masih engga mau nyebut nama dia?”

“Iya itu. Eh ya, kapan gitu bisa temenin gue nyari kuas baru gak?” Aku berusaha mengalihkan.

“Kemaren itu kuas gue dapet sepaket dari pensil warna yang banyak itu. Yang dibeliin dia. Jadi gue gak tau dimana belinya.” Suaraku terdengar semakin pelan.

Sial. Kenapa kesana lagi kesana lagi sih? Aku mengumpat dalam hati.

Tania menaruh gelas jusnya. Lalu memandangku iba.

“Ngeliatin guenya biasa aja.”

“Hahahhaa.. Sumpah galak banget sih lo. Heran si Fahri bisa bikin lo luluh. Bisa bikin lo mau mikirin orang lain selain keluarga lo.”

“Heeh.. Gue mikirin elo juga ya. Please. Gak usah lebay.”

“Mikirin lelaki maksud gue.” Tania menunjuk hidungku dengan sendok yang dipegangnya.

Pikiranku langsung kembali ke kejadian sebulan lalu. Saat aku dan Fahri berbicara serius. Mengenai apa yang sedang terjadi dengan kami. Kenapa justru akhir-akhir ini sering selisih pendapat. Mungkin kami sedang sama-sama ingin dimengerti tapi tidak ada yang mau mengerti duluan.

Kami merasa sudah sama-sama dewasa, jadi gak lucu lagi kalo berantem atau ngambek-ngambek gak jelas tanpa pasangan kami tau apa penyebabnya. Pertemuan kami diawali dengan berkenalan biasa, karena Fahri adalah temannya temanku. Rumit? Ah tidak. Cinta bisa menghampiri lewat perantara siapa saja, kan? Setelah itu Fahri semakin intens menghubungiku dan aku masih menganggap dia sama seperti temanku yang lainnya. Hingga suatu hari, di mobil saat perjalanan pulang selepas ia berlatih dengan teman bandnya, ia mengajakku untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Aku tersenyum.

“Kita ini lagi kenapa sih, Ra?”

“Kok kita? Bukannya cuma kamu?” kataku sambil terus menggambar.

“Liat aku.”

Hafal sekali aku, jika Fahri sudah berbicara seperti itu artinya dia mau berbicara serius. Aku langsung menutup buku gambar. Selanjutnya kami membahas apa yang masing-masing rasakan temasuk tentang mimpinya dan tentang keinginanku yang tidak pernah kita bahas sebelumnya. Pertemuan kami berakhir saat hujan berhenti lalu Fahri mengantarkanku pulang. Meski tak ada kata “sepakat ya?” seperti sebelum-sebelumnya jika kita sedang memiliki pendapat yang berbeda. Aku merasa bahwa ia sudah yakin dan sepertinya dia juga sudah mengerti apa inginku.

Setelahnya tak ada kabar dari Fahri dan akupun terlalu gengsi untuk menghubunginya duluan. Bagiku, selesai ya selesai. Dua hari setelahnya aku baru sadar kalau ada sebuah CD didalam tasku. Begitu aku buka ternyata video berbagai tempat di Eropa, tempat yang ingin aku kunjungi dengan iringan musik lalu diakhir video ada pesan dengan tulisan tangan “Aku berusaha lebih keras dan lebih baik dari sekarang, setelahnya kita bertemu dan jangan pisah lagi.” Tulisan tangan Fahri. Aku menghela nafas. Sedikit tersenyum.

Aku benar-benar tak pernah lagi mencari kemana dia. Sepertinya memang tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan jikapun nantinya ada sebuah pertemuan dan mungkin ada juga selamat tinggal yang tak perlu untuk diucapkan karena mungkin saja masih ada harap disitu untuk kembali lagi.

Fahri yang berharap.

Aku? Tidak tau. Aku kapok untuk berharap. Lelah? Mungkin.

“Wooy.. dia melamun.” Tania berteriak ditelingaku.

“Sedih, Ra?”

“Engga. Biasa aja”

“Kalo gitu, ini elo yang bayarin ya? Kan dapet honor gambar.” Kata Tania sambil senyum-senyum. Ternyata sudah ada banyak makanan di meja kami.

“Kebiasaan… hih..”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s