Ini Janjiku

“RIO.. INI JAM BERAPA? KAMU LUPA?”

Aku langsung terlonjak dari tempat tidur. Aku lupa hari ini punya janji dengan Dinda untuk memilih jas.

“IYA DEAR.. AKU SEDIKIT ENGGA INGET, SETENGAH JAM LAGI AKU NYAMPE” Aku ikutan teriak menjawab telepon Dinda.

“Hahahahaha..” Yang diseberang sana malah tertawa geli

“Loh, Din? Kok ketawa?” aku menahan ponselku dengan bahu kanan sambil terburu memakai celana jeans yang tergantung di belakang pintu. Aneh banget ini cewe, teriak-teriak tapi ujung-ujungnya malah ketawa. Ah, tapi itu yang aku suka, dia tidak mudah ditebak. Ini yang namanya jatuh cinta? Seribu persen aku yakin akan menjawab iya.

“Emang kita janjian jam berapa?”

“Jam empat, kan?” aku mulai bingung, kenapa Dinda malah nanya jam berapa. Jelas-jelas dia udah teriak-teriak tadi

“Sekarang jam berapa?”

Aku langsung melirik jam di dinding sebelah kanan tempat tidurku. Aku langsung tertawa dan duduk di kursi meja belajar.

“Iiissshhh.. kebiasaan banget sih. Gak bisa bangunin aku yang lembut gitu ya? Awas ya kalau nanti ketemu! Habis aku kelitikin loh kamu.”

“Hehe.. iya calon imamku yang baik. Makanya jangan bangun siang. Sekarang udah jam enam dua puluh coba. Katanya mau olahraga?” suaranya terdengar lembut. Aku suka. Sebentar lagi, suara lembut itu yang akan membangunkanku tiap pagi. Bye bye alarm.

“Iya sayang.. baru pagi ini doang kok kesiangannya. Kemarin-kemarin kan engga. Hehe” Aku menjawab pertanyaan Dinda sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Dinda wanita hebat. Dia mampu mengubahku menjadi orang yang lebih sehat dari sebelumnya. Dulu, aku tidak suka olahraga tapi ternyata bertemu dengan Dinda yang fanatik olahraga. Kami bertemu saat lari pagi di taman kota. Waktu itu tidak sengaja tangan Dinda meninju wajahku. Salahku juga sih, aku sedang asik berlari sambil mendengarkan musik lalu berusaha ingin menyalip wanita didepanku. Tapi aku salah duga. Wanita itu malah merentangkan tangannya.

Kebetulan? Tidak juga, Tuhan sudah menakdirkan sebelumnya. Hingga hari itu aku akan fitting terakhir untuk pakaian pernikahan kami.

Suatu hari Dinda bilang, “Aku bakal bikin kamu suka olahraga. Ini janji aku sama Tuhan. Biar kamu sehat. Jadi aku tenang deh.” Senyumnya manis sekali.

“Din..Liat deh, aku akhirnya milih warna coklat muda. Kesukaan kamu, kan?

“Sekarang buka mata yuk. Aku mau liat sinar mata kamu lagi saat ngeliat jas ini.” Air mata tak sanggup lagi aku bendung, Dinda pergi, seperti janjinya kepada Tuhan, bukan janjinya kepadaku. Kecelakaan terjadi saat kami menuju bridal.

Dinda berhasil membuatku suka olahraga.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s