Yakin Nunggu Gue?

“Menurutmu apa yang menyenangkan di dunia ini?”

“Mungkin jatuh cinta dengan orang yang tepat”

“Kapan kamu tau bahwa kamu jatuh cinta dengan orang yang tepat?”

“Saat semesta mendukung semua niat baik kami.”

“Semudah itu?”

“Gak tau juga sih, hehe.”

Itu isi percakapan terakhirku dengan Rayna. Aku baru saja mengantar Rayna pergi untuk sekolah lagi. Dia haus akan ilmu, makanya selagi dia mampu pasti dia akan menuju negara yang menurutnya bisa mehilangkan dahaga pengetahuannya.

“Entar kalo gue kesepian engga ada elo gimana?’

“Engga usah lebay, kan udah canggih sekarang. Skype gue bakal nyala dua puluh empat jam buat elo.”

“Tapi masa gue ke kafe ini sendirian? Yang nanti ngabisin makanan gue siapa?” Aku menyuapi Rayna yang masih fokus menatap layar gadgetnya. Dia sedang browsing mengenai negara yang akan dia tuju.

“Yaudah cari pacar makanya.” Rayna menjawab sambil mengunyah]

“Gak mau. Kan udah ketemu soulmate, ngapain cari pacar?”

Rayna tersenyum. Lalu menutup muka dengan telapak tangannya.

“Diihh.. sok malu-malu”

Rayna membuka telapak tangan lalu menjulurkan lidahnya “weekk.. siapa yang malu yeee”

“Haha.. sial” Aku salah tingkah

“Yakin nungguin gue balik?”

“Yakin banget.” Aku menyeruput ice tea dari sedotan.

“Tapi kan ada ada Dio” Rayna terlihat sangat hati-hati berbicara

Air mukaku langsung berubah. “Shit.. Kenapa nyebut nama dia sih?” aku kesal dalam hati

“Karena gue yakin. Orang pertama yang bakal lo temui begitu balik ke Jakarta itu, gue bukan Dio. Hehe.”

“Huuuu.. Ge-er tingkat dewa. Tapi kan gue gak tau kapan balik”

“Cewe gila dasar. Elo mau pergi tapi belum tau kapan mau balik? Edan. Yaudah gue tungguin. Sepuluh tahun? Seratus tahun? Apa seribu tahun? gue bakal nunggu elo.”

“Nungguin gue balik atau nungguin gue putus sama Dio?” Rayna menjitak kepalaku

“Let’s see, honey.”

“Jaaahaaattt..” Rayna memukul kecil pundakku.

Aku tersenyum mengingat candaan terakhir aku dengan Rayna. Tayangan televisi depanku tak menarik. Sampai saat breaking news. Kecelakaan pesawat? Aku terdiam.

“ITU PESAWAT RAYNA.”

Aku terlonjak dari kursi dan langsung mengambil ponsel menghubungi Papinya Rayna.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s