Menikah vs Sekolah

Ketika lumayan lama engga merhatiin banget postingan orang di media sosial (sebut saja path :p ) tiba-tiba di saat lagi selow banget saya menemukan 2 postingan yang menggelitik……
.
.
.
.
.
*ternyata udah gak ada dong postingannya* *guling-guling* tau gitu langsung di screen shoot. Ngahahaha.

Kurang lebih isinya begini,

Postingan pertama: jadi wanita harus berpendidikan, wawasan luas, sekolah yang tinggi, kalo perlu sampe ke luar negeri. Jangan nikah aja pikirannya.

Postingan kedua: gue nikah muda, asik-asik aja hidup gue, gue punya anak dan lagi seru-serunya. Kalo lo sekolah mulu, kapan punya anaknya.

Kurang lebih begitu yang saya tangkep dari kata-kata di postingan yang berupa gambar itu. Tentu berdasarkan interpretasi pribadi sendiri yhaa..

Baca kedua postingan itu kok sedih ya?

Saya pikir, perdebatan hanya ketika melahirkan normal vs sesar, kasi Asi eksklusif vs susu formula, atau ibu bekerja vs ibu rumah tangga.

Ternyata sebelum 3 hal itu terjadi justru bermula dari sini, menikah vs sekolah. Eh sama gak sih perbandingannya? Haha.

Gak ada yang salah ketika kamu memilih untuk sekolah yang tinggi, sampai punya gelar yang banyak, punya ilmu yang banyak. Itu gak salah.

Begitu juga dengan menikah. Kamu menikah, punya anak, asik dengan perkembangan anakmu. Itu gak salah.

Yang salah (menurut saya) ketika kamu merasa kamu lebih baik dari orang lain.
Si wanita yang suka sekolah merasa dia lebih pintar dari si wanita yang memilih menikah dan tidak melanjutkan sekolah setinggi dirinya.
Begitupula si wanita yang sudah menikah dan punya anak merasa hidupnya lebih sempurna dibanding si wanita yang suka sekolah.

Menyedihkan.
Ketika sesama wanita justru saling menjatuhkan.
Ketika sesama wanita justru saling menyindir.

Di kehidupan sekitar saya, memang ada yang sekarang sedang menempuh pendidikan lagi, bahkan ada yang hingga keluar negeri. Sepenglihatan saya, tidak ada yang salah dengan hidupnya. Dia bahagia-bahagia aja dengan pilihannya. Dia enjoy dengan segala aktifitasnya sebagai pelajar.

Ada pula teman saya yang memang memilih untuk menikah, dan sekarang sudah punya anak yang sedang lucu-lucunya. Sering memposting kegiatan anaknya. Terlihat dia bahagia dengan pilihannya. Dia enjoy dengan segala kesibukannya menjadi ibu.

Di penglihatan saya, mereka bahagia dengan caranya sendiri-sendiri.

Tiap wanita (bahkan tiap orang) sudah memiliki takdirnya masing-masing.
Tiap wanita punya pilihannya masing-masing.

Mau sekolah lagi atau menikah ya itu hak masing-masing dong ya. Keduanya sempurna jika memang menjalaninya dengan tanpa beban.
Ya kan?
Mau sekolah lagi ya monggo..
Memilih untuk menikah ya silahkan..

Namanya mulut (sekarang mungkin ditambah jempol) suka iseng kan ya. Celetukan-celetukan bahwa hidupnya lebih asik daripada orang lain tuh suka ada aja yaa.
Semacam “makanya bla bla bla bla”
Mungkin diucapkan dengan selow, tapi kalo di pihak sebrang lagi sensitip bisa bahaya kan~ bisa perang dunia. Wkwk.

Jangan saling senggol aja sih.. hihi..
Ibaratnya, kalo gak mau dicubit balik ya jangan nyubit duluan.. ehehe

Semua wanita itu sempurna kok.
Sempurna dengan caranya masing-masing.
Sempurna dengan jalan hidup yang dipilih masing-masing.

Jadi, udahan ah sensi-sensiannya~
*salam damai untuk seluruh wanita di dunia..
Cup cup muah muah

Eh, kalau ada yang mau berkomentar boleh banget loh. ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s